Sponsored
Menu
Surat yang Tidak Terkirim

Surat yang Tidak Terkirim

529 words 3 min read 399 reads Jun 27, 2026 2 Parts
Setelah bertahun-tahun keras kepala, Luai menulis surat untuk ibunya, tetapi dia tidak memiliki keberanian untuk mengirimkannya kecuali ketika hampir kehilangannya.

Part 1 — Surat yang Tidak Terkirim: Maafkan Aku, Ibu

Luai menulis surat itu tiga kali, dan setiap kali dia menghapusnya sebelum menekan tombol kirim. Kata-katanya tidak sulit, tetapi permintaan maaf itu lebih berat daripada kebanggaannya.

"Maafkan aku, Ibu, aku dulu mengira sudah cukup dewasa untuk tidak lagi membutuhkan kekhawatiranmu padaku."

Dia membaca kalimat itu dengan suara pelan dan merasa ada sesuatu yang menekan dadanya. Dia teringat setiap panggilan yang dia akhiri dengan cepat, setiap kali ibunya berkata "jaga dirimu" dan dia menjawab dengan bosan, setiap kunjungan yang dia tunda karena sibuk dengan hal-hal yang kini terasa sepele.

Ketika ibunya masuk rumah sakit, dia menyadari bahwa manusia bisa terlambat sangat lama dalam mengucapkan kata-kata paling sederhana. Dia duduk di dekat tempat tidurnya, sementara ibunya tertidur, dan membuka surat itu sekali lagi. Kali ini dia tidak menghapusnya. Tetapi dia juga tidak mengirimkannya. Dia membacanya untuk ibunya dengan suara pelan.

Dia mengatakan bahwa dia telah bersikap keras, dan dia salah ketika mengira kasih sayang ibu adalah hal yang pasti dan tidak perlu disyukuri. Dia mengatakan bahwa dia merindukan masakannya, doanya, suaranya saat memanggilnya dengan nama lengkap ketika marah.

Ibunya membuka mata perlahan. Dia belum mendengar seluruh surat, tetapi dia mendengar kalimat terakhir: "Aku minta maaf." Ibunya tersenyum dengan susah payah dan berkata: "Ibu sudah memaafkan sebelum anaknya meminta maaf."

Luai menangis seperti yang belum pernah dia lakukan sejak kecil. Dan keesokan harinya, ketika ibunya keluar dari rumah sakit, dia tidak mengirim surat itu. Dia mencetaknya dan meletakkannya di tangan ibunya. Ibunya berkata sambil membacanya: "Biarkan surat ini bersamaku, agar setiap kali kamu membuatku sedih aku bisa mengingatkanmu dengan ini."

Mereka tertawa bersama. Dan surat yang tidak terkirim itu menjadi hal terindah yang pernah sampai.

Part 2 — Surat dari Ayah untuk Putrinya di Hari Pernikahannya

Masa tidak menangis saat mengenakan gaun pengantinnya. Dia berusaha terlihat kuat, seperti yang diminta semua orang sejak ayahnya pergi. Tetapi ketika kakak laki-lakinya masuk ke ruangan dan meletakkan amplop putih di tangannya, dia gemetar.

Kakaknya berkata: "Ayah menulisnya untukmu sebelum dia terlalu lelah. Dia bilang berikan ini padanya di hari bahagianya."

Masa membuka amplop itu perlahan. Tulisan ayahnya masih jelas meski sudah bertahun-tahun: "Putriku Masa, aku tahu aku mungkin tidak bisa memegang tanganmu di hari ini, tetapi aku ingin kamu tahu bahwa hatiku bersamamu."

Dia duduk di kursi dan mulai membaca. Ayahnya menulis bahwa dia bangga padanya, dan dia tidak khawatir tentang hidupnya karena dia membawa hati yang baik dan pikiran yang tahu jalan. Ayahnya berpesan agar dia tidak membiarkan cinta menghapus dirinya, dan tidak membiarkan ketakutan menghalanginya dari kebahagiaan.

Kemudian ayahnya menulis: "Jika kamu menangis hari ini, jangan menangis karena aku tidak ada. Menangislah sebentar karena kita saling mencintai dengan cukup untuk membuat kepergian terasa menyakitkan."

Masa tidak bisa melanjutkan tanpa air mata. Ibunya masuk dan memeluknya. Tidak ada yang berkata: jangan menangis. Tangis di saat itu adalah bagian dari kebahagiaan.

Ketika dia keluar ke aula, dia memegang surat itu di bawah buket bunga. Ayahnya tidak berjalan di sampingnya, tetapi dia merasakan kehadirannya di setiap langkah. Dan ketika dia sampai di hadapan pengantin prianya, dia berbisik pada dirinya sendiri: "Aku tidak memulai hidup tanpa dia, aku membawanya bersamaku."

Di akhir acara, dia meletakkan surat itu di dalam kotak kecil. Dia tahu dia akan membacanya setiap kali membutuhkan mendengar suara ayahnya lagi.

Sponsored
Masuk ke akun Anda atau buat akun baru
Lupa kata sandi?

Masukkan alamat email Anda dan kami akan mengirimkan tautan untuk mereset kata sandi Anda.

← Kembali ke login