Bersponsor
Menu
Aku Tidak Menyalahkan Lagi: Bagian Kedua - Pesan Kedua yang Tak Bisa Dihapusnya

Aku Tidak Menyalahkan Lagi: Bagian Kedua - Pesan Kedua yang Tak Bisa Dihapusnya

773 words 4 min read 249 reads Sep 11, 2026 Movies Best
Ia tak menyangka satu pesan dari pria di masa lalu akan membangkitkan sesuatu di dalam dirinya yang ia kira telah mati sejak bertahun-tahun lalu. Di antara suami yang kini tak lagi melihatnya dan Karim yang menyadari kesedihannya, sebuah pesan ketiga datang yang mungkin mengubah segalanya.
0.0 / 5 · 0 0

Malam itu aku tidak tidur.

Pesan itu tetap bersinar di pikiranku lebih terang daripada saat ia bersinar di layar:

**"Wanita sepertimu tidak seharusnya bersedih seperti ini."**

Kalimat biasa.

Jika dibaca siapa pun, mereka akan bilang itu hanya pujian murah.

Tapi bagi seorang wanita yang belum mendengar kata-kata indah sejak berbulan-bulan...

Itu bagaikan memberi air kepada orang yang kehausan di tengah gurun.

Siapa dia?

Aku membuka nomor itu.

Gambar profilnya kosong.

Namanya tidak tersimpan.

Tapi aku ingat.

Dia adalah teman kuliahku dulu.

Kami tidak pernah punya apa-apa.

Hanya kekaguman diam yang mati sebelum sempat lahir.

Dia satu-satunya yang memanggilku:

**"Wanita keras kepala yang cantik."**

Karena aku selalu berdebat dengan semua dosen dan tidak mudah menyerah.

Aku ragu-ragu lama...

Lalu aku mengetik:

**"Siapa?"**

Dia membalas dalam kurang dari satu menit, seolah-olah dia menunggu dengan ponsel di tangannya:

"Kau tahu kau akan mengingatku… aku Karim."

Jantungku berdebar.

Bukan karena cinta.

Melainkan karena takut.

Takut pada diriku sendiri.

Lalu ia menulis lagi:

"Aku melihat fotomu secara tidak sengaja. Tatapan yang sama… tapi kesedihan di dalamnya kini lebih besar."

Aku ingin menulis:

"Jangan hubungi aku lagi."

Aku ingin memblokirnya.

Aku ingin menjadi istri kuat yang menutup pintu rapat-rapat terhadap angin apa pun yang mungkin masuk ke rumahku.

Namun tanganku tidak melakukannya.

Aku hanya menulis:

"Aku sudah menikah."

Balasannya datang:

"Aku tahu… dan aku tahu kau terlalu setia, bahkan mengorbankan dirimu sendiri."

Itulah kalimat yang tak bisa kuhapus.

"Terlalu setia… bahkan mengorbankan diriku sendiri."

Ya.

Aku setia pada rumah yang tak lagi mendengarku.

Pada pria yang tidur di sampingku namun membiarkanku sendirian.

Pada citra wanita kuat yang aku lukiskan untuk diriku sendiri…

Sementara di dalam, aku perlahan hancur dalam diam.

Di pagi hari, suamiku bangun. Ia meminum kopinya, mengenakan pakaiannya, lalu berjalan melewatiiku yang berdiri di dapur dengan pakaian yang sama yang kumakai sejak malam tadi, dengan mata bengkak karena begadang. Ia tidak berkata:

**"Ada apa?"**

Ia tidak bertanya:

**"Kamu sudah tidur?"**

Bahkan tidak:

**"Kenapa matamu begitu?"**

Ia menatapku dan hanya berkata:

— Kemeja biru itu belum disetrika?

Aku menjawab:

— Belum.

Ia berkata:

— Baiklah.

Lalu ia pergi.

Pada saat itu…

Aku tidak menangis.

Aku tersenyum.

Sebuah senyuman dingin yang menakutiku sendiri.

Karena aku memahami sesuatu yang kejam:

**Jika aku menghilang hari ini, mungkin ia akan mencari kemeja biru itu sebelum mencariku.**

Aku membuka ponselku.

Ada pesan baru dari Karim:

**"Aku tidak ingin apa-apa darimu. Tapi jangan padam dirimu hanya untuk menerangi rumah yang sudah tidak lagi melihat cahayamu. Kamu layak agar ada yang bertanya: Bagaimana hatimu hari ini?"**

Saya membacanya.

Sekali.

Dua kali.

Lalu saya menutup ponsel.

Namun saya tidak menghapus pesan itu.

Saya membiarkannya di sana…

Sebagai dosa kecil yang tak terlihat siapa pun.

Namun saya melihatnya.

Saya masuk ke kamar tidur.

Saya membuka lemari.

Dan di bagian belakang, ada gaun yang tak pernah saya kenakan selama dua tahun.

Saya menyembunyikannya setelah suami saya pernah berkata:

**"Pakailah sesuatu yang lebih menutupi."**

Saya mengambilnya.

Saya mengenakannya.

Saya memakai parfum lama saya.

Saya menyisir rambut saya.

Lalu saya berdiri di depan cermin.

Saya tidak berhias untuk Karam.

Dan saya tidak mencoba memancing suami saya.

Saya hanya mencoba melihat wanita yang telah saya lupakan.

Wanita yang pernah tertawa.

Yang mencintai dirinya sendiri.

Dan menatap cermin tanpa bertanya:

**"Apa yang salah dengan diriku?"**

Di malam hari, saya mendengar suara kunci di pintu.

Suami saya pulang.

Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun…

Saya tidak berlari menyambutnya.

Saya tetap duduk di depan cermin.

Dia masuk ke kamar.

Dia melihatku.
Lalu berhenti.
Menatapku lama.
Seolah baru saja melihatku setelah lama tidak bertemu.

Dia berkata dengan kaget yang nyata:
— Lewin, mau ke mana?

Aku menatapnya melalui cermin.
Lalu kujawab dengan tenang, sesuatu yang tak biasa dariku:
— Tidak ada tempat… Aku mau pergi pada diriku sendiri, tapi aku kembali.

Dia tetap berdiri.
Bingung.
Seolah kalimat itu tak mudah baginya untuk dipahami.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan…
Dia benar-benar menatapku.
Bukan pada pakaianku.
Bukan pada makananku.
Bukan pada rumahku.
Melainkan padaku.

Namun pada saat yang sama…
Ponselku bergetar di saku.
Sekali.
Lalu dua kali.
Aku menunduk melihatnya.
Ada pesan baru dari Karim.
**Pesan ketiga.**

Aku mengulurkan tangan ke arah ponsel…
Lalu berhenti.
Suamiku masih berdiri di belakangku.
Menatapku.
Sementara Karim menunggu di balik layar kecil.
Dan aku berada di tengah-tengah…

Antara seorang pria yang baru saja mulai menyadariku, dan seorang pria yang sudah menyadariku sebelum aku memintanya. Aku belum membuka pesan itu. Namun aku juga… **tidak menghapusnya.** **Bagian kedua telah selesai.** Menurut kalian… apakah aku akan membuka pesan ketiga dan terjebak dalam pusaran yang mungkin tak bisa kulewati? Ataukah tatapan bingung suaminya akan menjadi awal kembalinya dia padanya? Tuliskan pendapat kalian 👇 **Bagian ketiga:** **"Ketika akhirnya ia menyadariku."**

Comments (0)

Be the first to comment.
Masuk ke akun Anda atau buat akun baru
Lupa kata sandi?

Masukkan alamat email Anda dan kami akan mengirimkan tautan untuk mereset kata sandi Anda.

← Kembali ke login